Skip to Content

Menggali Makna “Sancang”

Posted in

Kebudayaan, bagaimanapun didefiniskan, tetaplah akan merujuk kepada suatu kisah, hikayat, mitos, pantun atau sekadar adat istiadat di masa lalu. Tak ada sebuah bangsa, suatu masyarakat di dunia mana pun, yang tidak memiliki cara pandang spesifik di zaman sebelumnya, yang tergambarkan dengan jelas dalam artefak arkaiknya. Masa lalu demikian berharga karena ia anasir yang telah membentuk struktur sadar kita; juga akar dari ketaksadaran kolektif dari perilaku dan nilai-nilai keseharian. Masa lalu adalah juga simbol-simbol yang telah menyingkapkan makna kehidupan dalam struktur ruang waktu tertentu—sejenis rasionalitas khas dalam memahami realitas.

Dalam psikologi jungian, setiap suku bangsa memiliki perbendaharaan memori tertentu di dalam struktur ketaksadaran kolektif yang diwariskan secara turun temurun, dan dinamai sebagai arketif. Salah satu arketif tersebut adalah Self (diri) yang disimbolkan dengan mandala, yakni berupa bentuk lingkaran atau persegi yang konsentris. Contoh paling gampang ditemui misalnya dalam skema bentuk candi, bentuk masjid, dll. Mandala adalah simbol spiritual-universal, yang dapat dengan mudah ditemukan di belahan bumi mana pun. Mandala adalah simbol agar manusia menempuh proses transformasi diri menuju Pusat yang Absolut. Jung dengan sengaja menggunakan mandala sebagai simbol untuk Self, karena Self sendiri merupakan gambaran Tuhan (imago dei). Karenanya Self, bisa diartikan bersifat ilahiah. Masih dalam kerangka psikologi analitis Jung, kepenuhan (totalitas) dan keparipurnaan seorang manusia terjadi manakala struktur kepribadiannya bergeser dari ego sadar ke Self yang ada di ketaksadaran kolektif, lewat proses individuasi. Pada titik inilah batas struktur sadar dan taksadar meluruh dan menyatu.

Suku Sunda, secara ras, juga memiliki konsep tentang mandala. Berbeda dengan sebagian besar suku bangsa lainnya, konsep mandala dalam alam pikiran masyarakat Sunda ditransformasikan dan dimanifestasikan ke bentuk-bentuk alam. Pada orang Jawa, misalnya, dengan mudahnya kita menunjuk candi-candi sebagai manifestasi bentuk mandalanya. Maka, perjalanan batin orang Sunda dalam menggapai keparipurnaan pribadinya, tidak akan terlepas dari simbol alam di mana ia tinggal. Ini dengan jelas tergambar dalam tembang-tembang suluk karya Haji Hasan Mustafa, seorang budayawan Sunda dan ulama Islam di awal abad ke-20.

Jangkarna jati walagri
Waluya kasampurnaan, kaperong
Bawatna bohong
Disulukan disindiran
Bukaeun di pawekasan
Mungguh pasulukan Bandung
Kacarita Sangkuriang


pasulukan di Galunggung
gumelar ka Pajajaran

Dalam hampir keseluruhan tembang-tembang Haji Hasan Mustafa, terlihat bagaimana pengetahuan kesulukan disematkan kepada nama-nama gunung, dalam mitos-mitos kejadian suatu tempat (seperti cerita Sangkuriang dan Gunung Tangkuban Perahu), ataupun nama-nama sungai, desa, danau dan situ. Di daerah Sunda, alam dan lingkungannya itu sendiri, membentuk konstelasi mandala. Sehingga, kita hampir tidak menemukan bentuk mandala secara artefak di wilayah Jawa Barat pada umumnya, seperti halnya candi-candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Salah satu mitos yang berkembang di alam pikiran orang Sunda, ialah tentang leuweung atau hutan Sancang (terletak di Kab Garut, dan berbatasan dengan Laut Kidul dan Sungai Cikahyangan), sebagai tempat ngahyang (moksa) Prabu Siliwangi dan para pasukannya. Menurut mitos ini, Prabu Siliwangi ngahyang dan berubah wujud menjadi macan putih, sedangkan para prajuritnya ada yang menjadi macan loreng dan ada juga yang menjadi kai (pohon kayu) kaboa. Inilah mengapa kemudian simbol maung (harimau), pohon kaboa, dan nama Prabu Siliwangi akrab dengan kehidupan keseharian orang Sunda, dengan menjadikannya sebagai logo, simbol maupun jargon. Bukankah Kodam Siliwangi berlambang harimau?

Sayangnya, semenjak era reformasi, saat rakyat sedang bereuforia, dengan ketidakjelasan hukum, leuweung Sancang ditebang habis. Ada sekitar 400-an ha lebih hutan yang telah rusak dari total 2.157 ha. Padahal, keberadaan leuweung Sancang demikian penting karena merupakan tempat bernaungnya flora dan fauna yang cukup langka. Di sana sempat terdapat harimau, banteng, owa, rangkong, burung kipas, macan tutul dan merak. Harimau Jawa, atau maung Sancang, bahkan dinyatakan sudah lama punah. Sedangkan banteng dinyatakan punah di akhir tahun 80-an. Untuk flora, di leuweung ini terdapat kayu meranti merah dan pohon kaboa, yang tidak ada di mana pun di dunia. Sehingga cukup pantas, jika kita menyebut hutan sancang sebagai konservasi alam tingkat internasional.
Lalu apa arti kata “Sancang”?

Penelusuran penulis selama di berada di wilayah hutang Sancang, dan bertemu dengan salah seorang sesepuh yang mengerti betul khazanah Sancang, ternyata cukup mengejutkan. Ki Samdi (meninggal tahun 2005, dalam usia 104 tahun), nama sesepuh tadi, menuturkan bahwa, Sancang memiliki arti : nuduhkeun jalan ka pikahareupeun, atau “memberi petunjuk arah ke masa depan”. Arti ini betul-betul sangat tepat, berkaitan dengan fungsi keberadaan leuweung Sancang bagi orang Sunda.
Bagaimanapun, mitos bahwa Prabu Siliwangi ngahyang di Sancang, harus kita pahami sebagai bentuk-bentuk arketif dalam alam ketaksadaran kolektif masyarakat Sunda. Secara fakta historis, Prabu Siliwangi adalah sosok Raja Pajajaran yang dijadikan panutan bagi orang Sunda. Ia adalah nama lain dari Sri Baduga Maharaja yang memerintah Pajajaran dari tahun 1485-1521 M. Beliau seorang raja adil bijaksana, yang telah membawa kerajaan Pajajaran ke puncak kejayaannya. Maka, dalam alam taksadar masyarakat Sunda, sosok Siliwangi demikian melekat, karena merupakan patron ideal bagi tujuan transformasi diri, yang berakhir degan status ngahyang.

Hal ini tentu berselarasan dengan pengertian “Sancang” itu sendiri, sebagai “memberi arah ke masa depan”. Ini adalah sebuah sinyalemen bahwa dengan mengerti dan memahami khazanah Sancang, orang Sunda dengan sendirinya akan tertuntun untuk menempuh perjalanan di masa depannya. Karena di Sancang inilah salah satu pengetahuan kesulukan kesundaan berada.
Lalu, bagaimana jadinya jika maung sancang, sebagai simbol Jawa Barat sendiri sudah punah? Lalu bagaimana jika hutan Sancang—dan hutan-hutan lainnya, berserta sungai, gunung, situ dan danau—mulai dirusak, dijarah, ditelantarkan dan dicemari. Padahal di sanalah masyarakat Sunda menyematkan bentuk-bentuk mandalanya, cerita dan pengetahuan kesulukannya (perjalanan batinnya). Padahal itulah akar kesadaran dan ketaksadaran kita. Apakah ini sebuah petanda degradasi kepekaan spiritual kita? Simbol diri kita yang tidak peduli dengan penempuhan jalan batin (suluk) menuju Tuhan. Tentu tidak. Karena hutang Sancang, dan hutan-hutan lainnya, masih belum terlambat untuk kita selamatkan. Kita masih punya waktu untuk menata kembali alam dan lingkungan Sunda : sungai, situ, gunung, kampung, dan terutama diri kita sendiri.

Himawijaya (anggota LSM Pasanggrahan Baranang Siang, www.sancang.org)