Skip to Content

Upaya Memadukan Beragam Teori Kesadaran

Posted in

Judul : Integral Psychology
Penulis : Ken Wilber
Penerbit : Shambala
Cetakan : III, 2000
Tebal : xiii + 303 halaman

“Selama beberapa bulan setelah aku menggunakan LSD untuk pertama kalinya, aku yakin telah menemukan rahasia alam semesta. Aku juga reinkarnasi dari sekaligus Buddha dan Kristus. Kitab suciku setebal 47 halaman, hasil diskusiku dengan arwah orang-orang suci, kuharapkan bisa mempersatukan bangsa-bangsa seluruh dunia dalam proyek membangun masyarakat baru.”

Sekelumit cerita dari David Lukoff, tatkala dirinya bersentuhan dengan kesadaran di luar kebiasaan, di luar diri, atau kesadaran transpersonal. Dia bersama Francis Lu dan Robert Turner memelopori sebuah gerakan baru dalam bidang psikiatri, yang melihat psikosis tidak hanya dari perspektif biomedis semata. Mereka berusaha memahami jiwa manusia dengan membuka diri pada pengalaman spiritual. Mereka bisa dikatakan sebagai para eksponen angkatan keempat dalam sejarah psikologi yakni psikologi transpersonal. Tiga angkatan sebelumnya adalah : psikologi behavioristik, psikoanalisis, dan psikologi humanistik.

Psikologi generasi sebelumnya dirasa tidak begitu mengakomodasi pengalaman spiritual. Maka psikologi transpersonal berusaha menempatkan pengalaman ini—peak experience dalam istilah Maslow, atau d-ASC (discrete Altered State of Consciousness) menurut Charles T. Tart—sebagai landasan teorinya. Meskipun tunas-tunasnya telah muncul ke permukaan jauh sebelumnya, yakni semenjak Jung dan William James datang dengan teori psikologi yang memandang postif pengalaman religius.

Kehadiran psikologi transpersonal bukanlah tanpa kritik. Kritik pertama, datang dari para penganut angkatan sebelumnya yang melihat ilmu psikologi sebagai sesuatu yang empiris dan ilmiah. Usaha sekeras apa pun dari tokoh psikologi transpersonal, dalam pandangan mereka, pengalaman spiritual tidak mungkin bisa ditangkap oleh perangkat inderawi atau pun nalar, sehingga pembicaraan mengenai pengalaman tersebut harus diletakkan dalam wilayah metafisis, alam bawah sadar, atau pengalaman di luar kebiasaan.

Kritik kedua datang dari para penganut tradisi, para pembela institusi agama. Menurut kaum tradisionalis, psikologi transpersonal telah mereduksi ritual keagamaan hanya untuk terapi psikis semata. Perpaduan antar-ritual yang digunakan sebagai terapi terkesan sangat eklektik, mengada-ada, dan tidak menghargai fondasi setiap agama. Para tradisionalis ini dipelopori oleh Fritjof Schuon dan Syed Hossein Nasr di abad ini, dan dikenal juga sebagai para penggagas filsafat perennial.

***
Dialog untuk menemukan psikologi degan agama seraya mempertimbangkan tarikan, kompromi dan irisan antara keduanya terus menerus dilakukan. Salah satu pelaku utamanya ialah Ken Wilber, yang membawa angin segar bagi kelanjutan teori kepribadian. Ia tidak begitu menyukai jika gagasannya, yakni psikologi integral, dinamakan sebagai psikologi angkatan kelima. Ken Wilber hanya berusaha mencari hubungan yang tepat antara teori psikologi yang sudah ada dengan tradisi religius. Konsekuensi dari pengintegrasian ini, mengharuskannya untuk menyelidiki hampir 100 teori kesadaran manusia yang dikembangkan di Barat dan di Timur, mulai era pramodern, modern dan posmodern.

Hasil penjelejahan dan pemetaan semua teori di atas, ia tuangkan kembali pada tempatnya masing-masing, pada level-level dan kuadran-kuadran yang terskemakan dalam ruang dan waktu. Jadilah sebuah skema integral, meliputi keseluruhan kudran dan level (All Quadrant All Level : AQAL), yang tertulis dalam karyanya ini, Integral pyschology.

Yang menarik dari gagasan Wilber, adalah sikap netralnya atas semua klaim pengalaman spiritual. Artinya, pengalaman spiritual memang merupakan suatu pengalaman metafisik yang tidak bisa ditarik ke bahasa-bahasa nalar. Sehingga alih-alih menghakimi pengalaman spirtual, lebih baik kita mencoba berempati dan membiarkan penilaiannya dalam kerangka ajaran tradisinya masing-masing. Tapi tentunya dalam pandnagan Ken Wilber, suatu pengalaman spiritual harus mendapatkan tempat dalam wadah psikis dan konstruksi kesadaran yang memadai, agar berdampak secara langsung dalam perilaku nyata keseharian.

Masing-masing tradisi memiliki suatu fondasi yang ditegakkan oleh para pendirinya, yakni mereka yang disebut para figur terpilih, yang mendapatkan pengalaman spiritual langsung, yang berhasil menembus tabir-tabir hijab alam dan dirinya sendiri untuk menemukan hakikat keberadaan diri, dan eksistensi Tuhannya. Sehingga, penilaian atas pengalaman spiritual mestinya diletakkan dalam kaidah baku ajaran agama dan tradisi masing-masing (meliputi dimensi eksoteris dan esoterisnya). Kita hanya bisa melihat dampaknya di level praktisnya semata. Dan pilihan apakah seseorang akan menempuh suatu pengalaman spiritual atau tidak, akan terkait dengan bagaimana ia memandang doktrin-doktrin metafisik (kepercayaan terhadap Tuhan, kehidupan setelah kematian, adanya juru selamat dll), serta menjalankan agamanya secara utuh. Tugas bersama semua manusia adalah mencoba membangun sebuah konstruksi fisik dan psikis yang sehat. Bagi seorang penempuh jalan spiritual, konstruksi fisik dan psikis yang sehat akan menjadi wadah bagi pengalaman spiritualnya hingga bisa termanifesatikan dalam perilaku keseharian, bisa bermanfaat dan berguna buat orang lain. Sedangkan bagi yang memilih tidak, ia setidaknya bisa berperilaku sesuai nilai-nilai kemanusiaan, asas-asas kebaikan universal.

Maka, upaya penempuhan jalan spiritual dengan praktik penggunaan zat-zat psikodelik, bisa dikatakan seperti mencoba menangguk air dengan wadah yang rusak. Suatu tindakan yang tidak berarti apa-apa. Juga, demi alasan apa pun, tindakan yang mengatasnamakan agama atau pengalaman spiritual, tapi bertentangan dengan kaidah-kaidah kemanusiaan universal (yang selalu ada dalam setiap agama), bisa dikatakan hanyalah gejala penyakit mental semata.

Penulis :
Himawijaya (nama pena dari Deden Himawan)
Pernah dimuat di Harian Pikiran Rakyat