Skip to Content

Membaca Alam, Membaca Ayat

Posted in

Judul : Membaca Alam Membaca Ayat Penulis : Bruno Guiderdoni Penerbit : Mizan Tahun Cetak : I, Agustus 2004 Tebal : 208 halaman “Sejauh semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar sepenuhnya mencukupi pada diri sendiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki baik titik awal maupun akhir : semesta hanya sekadar ada. Kalau begitu di mana tempat bagi Sang Pencipta?”

Stephen Hawking

Peristiwa bigbang, atau ledakan besar, bagi Hawking adalah isyarat bahwa Tuhan tak perlu ada dalam proses penciptaan semesta. Tapi tidak bagi seorang kosmolog-muslim yang taat, Bruno Guiderdoni. Justru ia melihat, segenap semesta (ufuq) adalah ayat, atau tanda, yang menunjukkan arah kepada wajah Allah Ta’ala (Al Haqq) yang menghadap ke ciptaan. Karena, bagi Bruno, penemuan dan riset mutakhir dalam bidang astronomi, khususnya kosmologi modern, mengarah kepada sebuah pandangan dunia mirip abad pertengahan Islam. Dan lewat buku inilah, berupa kumpulan artikel serta wawancaranya, Bruno menguraikannya dengan sangat gamblang. Bruno Guiderdoni adalah seorang astronom di Institut Astrofisika Paris. Pada tahun 1987, ia memeluk islam dan menambahkan Abd Al-Haqq pada namanya, hingga menjadi Bruno Abd Al-Haqq Guiderdoni. Dari tahun 1993-1999, ia membuat program “Mengenal Islam”, sebuah acara di televisi publik Prancis. Ia juga memublikasikan secara luas tulisan tentang teologi dan mistisisme Islam. Sedangkan risetnya sendiri dalam bidang astrofisika, terfokus pada pembentukan evolusi galaksi. Ada kurang lebih 100 makalah lebih yang dia laporkan sebagai hasil riset akademisnya. Apa yang membuat Bruno tertatrik pada agama Islam? Di dalam buku ini diceritakan bahwa ada perjalanan spiritual panjang yang harus ia lewati, setelah melaui perenungan pribadi terhadap sifat-sifat dasar pengetahuan dan makna kehidupan. Bruno sendiri, besar di Prancis dalam budaya Kristen sekuler. Setelah sekian lama bergelut dengan dunia sains, akhirnya, ia menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dan kering dalam dirinya, saat melihat dunia sebatas pendekatan saintifik. Akhirnya, ia mulai mempelajari agama-agama di luar Kristen, terutama agama Timur seperti Buddha, Hindu dan filsafat Tao. Tapi kemudian, ia memutuskan untuk memeluk agama Islam, setelah melakukan pendalaman terhadap ajarannya, khususnya doktrin-doktrin tradisi esoterisme-nya. Sepintas kita hampir tidak menemukan jejak yang menunjukkan bahwa dia seorang ilmuwan astronom modern, kecuali di bagian-bagian akhir buku ini. Tulisan-tulisannya lebih bernuansa pandangan Islam abad pertengahan dalam memandang realitas. Ia seringkali menggunakan kacamata para mistikus seperti halnya Ibnu Arabi dan Farghani, terkadang juga dia membedahnya lewat pandangan para filsuf seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Sina, dan malah berargumen khas Alghazali. Memang itulah alternatif yang ditawarkan Bruno. Karena bagaimanapun, pendekatan saintifik memiliki keterbatasan dalam memandang realitas. Reduksionisme, sebagai basis metodologi sains modern, sangat ampuh di tingkat metodologi, tapi rapuh pada tataran filosofis. Satu-satunya cara adalah kita mencoba melihat realitas dalam kacamata lain. Dan Bruno menganjurkan pendekatan yang lebih spiritual. Dalam pendekatan spiritual Islam, ujung pencarian dan pembacaan alam semesta adalah pengetahuan. Tapi berbeda dengan definisi sempitnya, pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang memiliki konsekuensi ontologis. Artinya, dalam pandangan dunia islam, epistemologi dan ontologi tak terpisahkan. Karena, yang dimaksud dalam Alqur’an sebagai ilmu, adalah pengetahuan yang mengantarkan kepada penyucian diri, transformasi batin, manakala kita memandang semesta, sebagai wajah Al-Haqq. Sehingga pendekatan terhadap realitas seperti yang disinggung Bruno, pastilah bukan semata lewat penalaran, ataupun logika-empirisme, tapi lewat suatu instrumen yang dinamakan para filsuf abad pertengahan sebagai intelek. Nah, sinilah justru letak kekuatan Bruno. Ia sangat piawai menguraikan dasar-dasar epistemologi Islam, yakni cara pandang ajaran Islam dalam memandang pengetahuan berikut instrumennya. Argumentasinya kelihatan jernih, dengan merujuk banyak ayat Alqur’an dan Hadits. Bruno memamparkan bahwa istilah Aql, Qalbu, Shadr, adalah perangkat-perangkat dalam diri manusia yang disebut Alqur’an, yang berguna untuk memahami realitas yang lebih transenden. Ujung-ujungnya, di bagian akhir buku ini, Bruno menjelaskan beberapa hal yang menuntut asumsi dan pengandaian metafisik dalam memenadang realitas, manakala melihat hasil temuan kosmologi modern. Hasil temuan para astrononom terkini, pada akhirnya selalu berujung pada dua hal. Pertama, adanya ketertalaan yang cermat (fine tuning) dalam proses penciptaan dan struktur jagat raya. Artinya dibutuhkan akurasi yang sangat tinggi sekali semenjak awal penciptaan, sampai unsur-unsur tersusun, hingga menjadi semesta seperti ini. Kedua, adanya universalitas hukum-hukum. Di manapun, dan bagaimanapun kita melihat dan membedah alam semesta, di sana hukum fisika kuantum berlaku universal. Artinya ada prinsip dasar yang menjadi kerangka tegaknya jagat raya. Kedua hal ini, bagi Bruno, mau tidak mau menuntut manusia untuk mengakui adanya Sang Pencpita, dan alam semesta yang tercipta dengan satu tujuan (telos), bukan sesuatu yang kebetulan. Kepekaan metafisika seperti inilah yang dipunyai Bruno, dan tidak dimiliki Hawking. Barangkali itulah yang dinamakan hidayah.