Saya termasuk orang yang enggan jika harus berpindah laptop atau ganti laptop. Masalahnya tidak hanya sekadar memindahkan data yang berpuluh giga (kebanyakan ebook IT, filsafat dan agama), tapi kesulitan (tepatnya malas) saat harus memindahkan data-data database.
Karena memang saya menangani pekerjaan development dengan jenis database yang berbeda. Ada 10 database oracle, hampir 15 mysql, 1 sqlite, dan 2 postgresql. Hampir semuanya dalam skala yang besar. Bayangkan aja betapa repotnya harus memindahkan (eksport-import) masing-masing database tersebut.
Alasan yang kedua, saya harus memastikan betul apakah laptop baru ini bisa support linux. Masalahnya bukan saya sekadar linux evangelist (tapi boleh juga dikatai seperti ini, keren gitu lho), tapi memang bekerja dengan linux, untuk urusan apa pun, buat saya sangat memudahkan dan menyenangkan. Tidak terbayang, jika saya harus bekerja tanpa linux, karena kebutuhan saya cukup boros (contohnya dalam hal database) dan selain itu seringkali saya harus multitasking ke banyak persoalan, mulai masalah server, konfigurasi dan kompilasi, sampai tetek bengek urusan programming dan webdesign. Di sinilah konsole dan editor menjadi senjata andalan.
Alasan ketiga, tentunya problem instalasi. Keborosan saya ini berdampak kepada banyaknya program yang harus diinstal. Memang di sini untuk linux sangat memudahkan, karena linux bukan sekadar sitem operasi, tapi ia menyediakan aneka hal yang saya butuhkan tadi.Nah, yang menjadi problem saya adalah,seringkali kita harus terkoneksi ke internet untuk urusan instalasi ini, karena ada banyak pustaka yang harus langsung kita ambil di internet. Tentu saja, koneksi yang lelet akan jadi hambatan utama. Maka untuk urusan instalasi, saya akan pastikan kapan dan dimananya saat koneksi yang cepat bisa saya dapatkan.
Alasan keempat, masalah kebiasaan. Ukuran layar dan keyboard yang berbeda akan sedikit merepotkan. Saya sering mengalami salah ketik atau mencet tombol yang tidak perlu, saat berpindah laptop/komputer ke ukuran keyboard yang berbeda.
Tapi ternyata empat alasan ini bisa saya lawan juga akhirnya, karena saya sekarang lebih banyak membutuhkan laptop dengan spek yang cukup tinggi. Karena saya kemungkinan besar akan semakin akrab dengan tetek bengek virtualisasi, dan mulai merambah dan meriset ke bahasa-bahasa pemrograman yang baru dan menantang (welcome in java).
Dan malam ini, saya sedang mengetik dengan laptop baru (12 inchi) menggunakan Mandriva 2009, sambil membuka netbeans 6.5 dan diiring Evanessence yang diputar di amarok, dan koneksi menggunakan telkomflash.
Semakin soliter aja nih. :D

